Penasehat Dekopinwil Jatim : Banyak Kepala Daerah Kurang Pahami Koperasi, Dekopinwil Wajib Hadir Sampaikan Visi dan Misi Koperasi

 

Malang, PipNewsJatim.Com – Mengejutkan, Ternyata hingga saat ini masih banyak Kepala Daerah di Jawa Timur yang kurang memahami Koperasi. Pasalnya, banyak kebijakannya yang lebih mengutamakan UMKM dari pada koperasi. Hal tersebut disampaikan Penasehat Dekopinwil Jatim, Slamet Sutanto pada saat memberikan sambutan Rapat Fasilitasi Asosiasi Dosen Kewirausahaan Berbasis Koperasi Indonesia (Adokoppin) di Whiz Prime Hotel Malang, Jum’at (03/05/2019).

“Saya sering berkomunikasi dengan beberapa Kepala Daerah. Mereka banyak yang tidak memahami koperasi. Sangat ironis. Kebijakannya lebih mengutamakan UMKM daripada koperasi. Padahal sudah jelas dan final bahwa koperasi adalah pilar ekonomi negara”, ujarnya.

Oleh karena itu, Slamet Sutanto mengharap agar Pimpinan Dekopinwil Jatim segera melakukan kunjungan ke Kabupaten/Kota untuk beraudensi menjelaskan visi dan misi koperasi kepada Kepala Daerah.

“Saya harap pimpinan Dekopinwil Jatim segera beraudensi dengan Bupati/Wali Kota menjelaskan tentang koperasi secara komprehensif. Saya yakin, kalau itu dilakukan maka koperasi akan diperhatikan. Itu pernah saya lakukan di Kota Blitar, Alhamdulillah itu berhasil”, ungkap Ketua Dekopinda Kota Blitar itu.

3 Tantangan Koperasi
Slamet Sutanto mengatakan bahwa setidaknya saat ini koperasi akan menghadapi 3 tantangan. Pertama, Kaderisasi. Krisis kader yang saat ini dialami koperasi menjadi sorotannya. Menurutnya, saat ini kader koperasi sangat minim. Generasi muda masih enggan untuk berkoperasi. Melalui Adokoppin, Slamet Sutanto berharap akan tercipta kader-kader koperasi yang berkualitas.

“Salah satu penyebab koperasi tertinggal dari badan usaha yang lain adalah krisis kader koperasi. Di level generasi milenial yang menguasi ekonomi, koperasi tidak masuk pemikiran yang utama. Mereka lebih memilih selain koperasi”

“Beruntunglah ada Adokkopin. Semoga adanya Adokopin akan muncul generasi pejuang koperasi. Lahirnya Bung Hatta yang baru. Karena sebagai dosen akan mentransformasikan pemahaman koperasi kepada mahasiswanya. Kami berharap, Perguruan Tinggi anggota Adokopin sudah membentuk Kopma sebagai inkubator bisnis bagi Mahasiswa”, katanya.

Kedua, adalah krisis teknologi. Menurut Slamet Sutanto, tidak sedikit pelaku koperasi tertinggal dari badan usaha yang lain dari aspek teknologi. Pelaku koperasi masih belum beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Padahal diera revolusi industri 4.0, yang menguasai teknologi akan menjadi pemenang. Ironisnya, pelaku koperasi merasa tidak tertinggal.

“Era revolusi industri 4.0 adalah era dimana yang menguasai teknologi akan menjadi pemenang. Oleh karena itu, saya akan dorong Dekopinwil Jatim untuk melakukan inovasi dan fasilitasi dalam bentuk pelatihan tentang teknologi informasi bagi koperasi” ungkapnya.

Ketiga, Regulasi. Diakui atau tidak regulasi merupakan penentu nasib dari koperasi. Tidak sedikit regulasi yang tidak pro terhadap koperasi. Oleh karena itu, Slamet Susanto berharap pimpinan Dekopinwil Jatim terus menjalin komunikasi dengan Gubernur, Bupati/Walikota dan anggota DPRD dalam bentuk rekomendasi. Tujuannya agar regulasi dan kebijakannya pro terhadap koperasi.

“Seperti yang sebelumnya saya sampaikan, Dekopinwil Jatim harus pro aktif berkomunikasi dengan eksekutif dan leguslatif agar regulasi dan kebijakannya itu pro terhadap koperasi”, pungkasnya. [Elc]

Berita Lainnya