Mengapa Ribut DEKOPIN Sebagai Wadah Tunggal?

(R. Nugroho)

Artikel, PipNewsJatim.Com – Menjelang disahkannya RUU Perkoperasian yang nyaris tak kunjung selesai, muncul lagi satu batu sandungan yang menghadang disetujuinya RUU perkoperasian menjadi UU.

Lembaga Gerakan yang bernama Dewan Koperasi Indonesia atau yang dikenal dengan DEKOPIN menjadi perdebatan sengit antara pihak yang mendukung dan pihak yang menolak hadirnya diatur dalam Undang-undang.

Kenapa hadirnya Dewan Koperasi Indonesia menjadi materi debatable dan menjadi salah satu batu sandungan disahkannya RUU yang sudah lama dinantikan. Ada Apa Dengan Wadah Tunggal? salahkah atau haruskah Dewan Koperasi Indonesia hadir sebagai wadah tunggal dalam perjuangan Gerakan Koperasi Indonesia untuk mewujudkan cita citanya? Apakah sebagai wadah Tunggal berarti Dekopin akan mengebiri hak demokrasi masyarakat Koperasi untuk berserikat sebagaimana dijamin oleh Konstituasi?

Terlepas dari alasan para pihak yang saling berdebat, penulis mencoba merenung:
Bagaimana kita akan mencapai cita cita koperasi? Tentunya akan banyak jawaban yang muncul untuk menjawab pertanyaan sederhana ini sesuai apa yang dipahami, dihayati dan diamalkan oleh berbagai pihak terhadap koperasi.

Penulis mencoba menjawab dalam kerangka pemikiran Bung Hatta :
“…Tadi saya katakan, pada dasarnya dalam koperasi tidak ada perjuangan kelas. Pada dasarnya , karena koperasi yang sebenar-benarnya koperasi adalah bentuk kerjasama dengan suka rela antara mereka yang sama cita-citanya untuk membela keperluan dan kepentingan bersama. Disini tidak ada majikan dan buruh. Semua anggotanya sama-sama majikan dan sama-sama buruh, semuanya dikemudikan oleh cita-cita yang sama. “ ( DR. Mohammad Hatta, membangun koperasi dan koperasi membangun , 1971 )

“ … Mohammad Hatta sebagai salah satu pembentuk UUD 1945 mengatakan bahwa asas Kekeluargaan adalah mengenai koperasi. Istilah asas kekeluargaan itu berasal dari taman siswa, untuk menentukan bagaimana guru dan murid yang tinggal padanya hidup sebagai satu keluarga. Begitu pula-lah hendaknya corak koperasi Indonesia. Hubungan antara anggota koperasi satu sama lain harus mencerminkan sebagai orang-orang yang bersaudara, satu keluarga….”

“ …Koperasi bukanlah PT (Perseroan Terbatas) yang diberi nama koperasi. Pemilik PT adalah para pemegang saham dan pelanggan PT adalah para konsumen yang membeli barang dan jasa dari PT itu. Namun Koperasi sangat berbeda, Pemilik Koperasi adalah juga pelanggannya sendiri. Oleh karena itu kalau PT berusaha mencari laba yang dipungut dari para pelanggannya, maka koperasi tidak mencari laba karena tidak masuk akal memungut laba pada diri sendiri, karena pelanggan adalah sekaligus pemilik yang sama…” (Pendapat Mahkamah Konstitusi dalam Putusan No 28/PUU-XI/2013)

“Koperasi bukan organisasi perseorangan yang mencari keuntungan, melainkan suatu organisasi kolektif dengan tujuan mencapai keperluan hidup, keuntungan bukan tujuan bagi koperasi “ , (Hatta, ekonomi terpimpin , 1960).

Dari pemikiran bung Hatta dan pendapat Mahkamah Konstitusi diatas, kekuatan untuk mencapai cita-cita koperasi adalah kebersamaan dan kerjasama yang ikhlas dalam wadah usaha bersama yang mempunyai ciri khas untuk mewujudkan cita cita bersama dalam perwujudan sebuah keluarga yang tidak mengenal kelas dan tidak mencari untung dari dirinya sendiri. (Catatan: seiring dengan pengakuan demokrasi ekonomi maka koperasi juga mendapatkan kesempatan, hak dan peran sama untuk melakukan bisnis dengan masyarakat sebagaimana pelaku ekonomi yang lain).

Kembali kepada pertanyaan diatas, bagaimana mencapai cita –cita koperasi !!?? Bangun koperasi dapat dilihat dari sisi cita-cita , semangat dan ruhnya, disisi lainnya dapat dilihat dari sisi teknis yaitu dari aspek organisasinya, usahanya, permodalan/keuangannya, serta manajemen pengelolaannya.

Dari sisi teknis, perlu dikembangkan berbagai lembaga yang dapat menampung beragam ide, inovasi, pemikiran dan kreasi untuk membangun organisasi, usaha, permodalan , serta manajemen koperasi seiring dengan perkembangan ilmu, teknologi dan tata kehidupan masyarakat. Dari sisi ini memang diharapkan lahir berbagai organisasi dan wadah bersama yang didirikan oleh Gerakan Koperasi.

Tetapi apapun ide, inovasi, kreasi pemikiran baru dikembangkan tentu tak dapat dilepaskan dari cita-cita, semangat dan ruh koperasi Indonesia sebagaimana kerangka pemikiran bung Hatta.

Merawat serta menjaga cita-cita, semangat dan ruh Koperasi Indonesia inilah gerakan Koperasi Indonesia membutuhkan wadah bersama yang utuh dan bersatu sebagai wujud kebersamaan dan kerjasama. Melalui wadah kebersamaan inilah gerakan koperasi berhimpun menuju cita-citanya.

Fakta Sejarah
Perjalanan panjang kehidupan Gerakan Koperasi Indonesia, menorehkan catatan sejarah bahwa sejak Konggres I di tasikmalaya 1947, seluruh komponen gerakan koperasi Indonesia telah sepakat mendirikan lembaga perjuangan gerakan Indonesia yang dikenal dengan nama SOKRI yang kemudian pada konggres II di Bandung 1953 berubah menjadi Dewan Koperasi Indonesia. Pada waktu pendiriannya tidak satupun komponen gerakan koperasi Indonesia mempermasalahkan apakah SOKRI yang kemudian berubah menjadi Dekopin itu wadah tunggal atau wadah jamak. Tujuan utamanya jelas bahwa SOKRI atau DEKOPIN didirikan sebagai wadah perjuangan yang menjadi wadah pemersatu gerakan koperasi Indonesia untuk mewujudkan cita citanya.

Kenapa pada saat akan disahkannya RUU muncul pemikiran dan debatable apakah Dekopin wadah tunggal yang perlu dihapuskan atau dipertahankan??

Ada hal hal substansif yang penulis tangkap dari pendapat para pihak yang bersengketa mengapa Dekopin dipermasalahkan ?

Karena sebagai wadah yang diproklamirkan sebagai wadah tunggal akan mengebiri atau menghilangkan hak berserikat dan mengembangkan pendapat sebagai mana dijamin oleh konstitusi / UUD 1945, hadirnya Dekopin menjadi beban gerakan koperasi Indonesia, hadirnya Dekopin menjadi alat untuk kepentingan kelompok dan pendapat miring lainnya.

Pemikiran Bung Hatta mengingatkan kepada kita semua, untuk menjaga dan merawat semangat, cita-cita dan ruh koperasi, seluruh gerakan koperasi Indonesia memang harus bersatu, bersama dan bekerjasama untuk itulah dibutuhkan sebuah wadah bersama sebagai wadah pemersatu seluruh kekuatan, sebagaimana fakta sejarah bahwa Gerakan Koperasi Indonesia pernah bersepakat mendirikan wadah pemersatu yang disebut SOKRI yang kemudian berubah menjadi DEKOPIN.

Sebagai wadah usaha bersama yang khas, apa salahnya kita tetap bersatu dalam wadah yang pernah kita dirikan sendiri? Apakah salah berjuang untuk suatu cita-cita yang hakiki dalam sebuah wadah pemersatu? Di tingkat Intenasional juga berdiri wadah bersatu gerakan Koperasi Dunia yaitu ICA.

Apakah Wadah Pemersatu mempunyai makna yang sama dengan wadah tunggal dalam konteks memperjuangkan Cita – Cita Koperasi Indonesia.

Mengapa sengketa timbul diantara gerakan koperasi Indonesia, tentang Dekopin yang pernah kita dirikan bersama, menurut penulis bukan karena peran Dekopin sebagai wadah pemersatu, tetapi kita harus jujur akui bersama bahwa ada bias dan pengelolaan Dekopin yang sudah keluar dari tujuan pendiriannya.

Untuk itu mari kita perbaiki bersama dalam semangat sebuah keluarga, jangan sampai karena persengketaan menghayati dan mengamalkan hakekat wadah bersatu, maka pembangunan dan pengembangan Koperasi Indonesia menjadi mundur atau jalan ditempat.

Berkaitan dengan perumusan pembuatan UU sudah ada prinsip prinsip umum pembuatan peraturan perundangan yang dapat kita pedomani. Mari kita tata kembali menempatkan Dekopin sebagai wadah pemersatu hadir di UU koperasi tetapi penempatannya tidak melanggar azas atau prinsip umum.

Sedangkan bias atau pengelolaan Dekopin yang keluar dari relnya kita selesaikan bersama dalam MUNAS DEKOPIN.

Dalam kerangka pemikiran Bung Hatta, penulis berpendapat Wadah Pemersatu Gerakan Koperasi Indonesia yang kita kenal sebagai DEWAN KOPERASI INDONESIA harus tetap hadir dalam UU Perkoperasian. Kenapa tidak ?

 

Penulis : R. Nugroho

Jabatan : Sekretaris GKPRI Jatim

Berita Lainnya