Lapenkop Jantungnya Dekopin

(Drs. Joko Rokhani Sanjaya Bersama Pelatih dan Pemandu Lapenkop)

 

Blitar, PipNewsJatim.Com – Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Dekopinwil Jatim Drs. Joko Rokhani Sanjaya, MM mengatakan bahwa posisi Lapenkop dan para pemandu dan pelatih koperasi sangat strategis. Menurutnya, kegiatan Lapenkop secara otomatis dapat menunjukkan peran dan fungsi Dekopin.

Oleh karena itu, pihaknya berharap agar Lapenkop tetap terus berkaya dengan memberikan ide-ide cemerlang dalam membangun koperasi sesuai jati dirinya.

Tidak hanya itu, Joko Rokhani Sanjaya juga berharap agar Dekopin dapat memberikan dukungan dan ruang gerak seluas-luasnya bagi badan khusus dan lembaga teknis khususnya Lapenkop untuk terus berkaya.

“Satu-satunya cara agar peran dan fungsi Dekopin diketahui dan dirasakan oleh koperasi dan masyarakat luas adalah dengan memberikan kesempatan kepada Badan Khusus dan Lembaga Teknis untuk berkarya”, ujarnya sesaat sebelum memberikan materi pada Pelatihan Pemandu Pilihan I (PPP I) Lapenkop Dekopin di Gedung Pertemuan PKPRI Kota Blitar. Sabtu (22/06/2019)

(Pelatih/pemandu sedang memberikan materi)

 

Joko Rokhani Sanjaya menjelaskan bahwa Posisi startegis Lapenkop tepat berada pada fungsi Edukasi yang menjadi domain Lapenkop. Dimana, fungsi edukasi merupakan media dalam mencetak SDM koperasi yang berkualitas. Sehingga secara tidak langsung akan berdampak pada kemajuan sebuah koperasi.

“Lapenkop itu jantungnya Dekopin. Kalau Lapenkopnya berfungsi itu tandanya Dekopinnya masih hidup. Karena, Lapenkop itu media yang memproduksi SDM yang berkualitas yaitu melalui pendidikan bagi anggota koperasi. Kalau SDMnya berkualitas, maka majunya koperasi menjadi sebuah keniscayaan. Bahkan, dari sangat pentingnya pendidikan anggota, founding father koperasi, Bung Hatta secara tegas menyampaikan bahwa koperasi tanpa pendidikan anggota itu bukan koperasi. Itulah posisi strategis Lapenkop sebagai fungsi edukasi Dekopin”, jelasnya.

Joko Rokhani Sanjaya tidak menampik bahwa faktanya saat ini masih banyak koperasi yang lamban berkembang dan cendrung stagnan. Menurutnya, hal tersebut disebabkan karena sejak awal pendirian koperasi tidak melalui tahapan yang benar.

(Pelatih/Pemandu sedang memberikan materi)

 

Seharusnya pendirian koperasi itu didasari dengan Common Need Economic setiap anggota koperasi. Yang dituangkan dalam AD/ART koperasi yang disahkan dalam bentuk badan hukum koperasi.

Tahap selanjutnya adalah tahap pemahaman. Pada tahap tersebut, Lapenkop melalui pemandu dan pelatihnya difungsikan dan Impowering. Tujuannya untuk memberikan pemahaman kepada anggota tentang apa itu koperasi, bagaimana berkoperasi yang baik dan benar serta bagaimana memanfaatkan koperasi.

“Kegagalan berkoperasi itu terjadi karena sejak awal tidak memahami landasan utama berkoperasi yaitu membangun ekonomi secara bersama-sama. Bukan secara individual”, ungkapnya.

“Lapenkop itu hadir untuk memberikan pemahaman yang benar tentang berkoperasi. Kalau bisa dipermudah, ngapain diperlusit”, pungkasnya. [Elc]

Berita Lainnya