Koperasi Pedesaan Siap Membangun Industri Hulu

 

Jateng, PipNewsJatim.Com – Koperasi merupakan perusahaan yang mempunyai 2 sisi. Pertama sebagai bentuk konsolidasi sosial karena beranggotakan orang-perorang. Kedua sebagai perusahaan yang mengkonsolidasikan pemenuhan kebutuhan ekonomi anggotanya. Maju mundurnya koperasi ditentukan oleh partisipasi aktif anggota secara ekonomi maupun organisasi. Sedangkan baik atau buruknya koperasi ditentukan oleh manajemen koperasi yang unsurnya terdiri dari pengurus, pengawas dan karyawan. Demikian dikatakan Dr. Agung Sudjatmoko Ketua Harian Dekopin saat membuka kegiatan Fasilitasi Konsolidasi Perencanaan Bisnis Koperasi Pedesaan di Solo yang diselenggarakan Dekopin tanggal 14-16 November 2018. Kegiatan yang diikuti oleh 60 koperasi pedesaan dari 8 kab/kota di Jateng tersebut, diharapkan mampu memberikan kepercayaan pada pengurus koperasi pedesaan untuk bangkit kembali membangun usaha yang sesuai dengan potensi ekonomi anggotanya di pedesaan.

Koperasi merupakan konsolidasi dari potensi atau bisnis anggota. Produktivitas anggota mengolah potensi desa harus difasilitasi oleh koperasi sebab anggota mempunyai keterbatasan, baik modal, informasi, jaringan pemasaran atau aspek lainya. Koperasi pedesaan harus hadir untuk menngangi urusan usaha anggotanya yang jika diurus anggota sendiri tidak efisien. Ditambahkan Agung anggota koperasi di desa bisa bertani atau berladang, tetapi masalah mereka adalah stabilisasi harga panen, permodalan atau teknologi. Melihat hal tersebut koperasi pedesaan harus untuk mengkonsolidasikan usaha anggota pada sisi memberikan skim pembiayaan yang sesuai dengan kondisi anggota, memasarkan produk anggota dengan membeli hasil panen anggota, dan bekerja sama dengan instansi teknis untuk menerapkan teknologi produksi yang tepat guna menghasilkan produk yang berkualitas. Jika ini mampu dilaksanakan oleh koperasi di pedesaan seperti KUD, maka akan terbangun sistem produksi industri dasar khususnya dibidang pangan yang kedepan akan mewujudkan kedaulatan pangan, ditegaskan oleh Ketua Harian yang juga Dosen Universitas Binus Jakarta tersebut.

Sektor pertanian, peternakan, pengolahan hasil pertanian, kehutanan bahkan perikanan laut maupun darat, dapat dikerjakan oleh koperasi pedesaan. Banyak hasil bumi di pedesaan yang belum dikerjakan dengan sistematis dan memberikan nilai tambah besar bagi warga desa. Permasalahan sistem distribusi yaang tidak dikendalikan oleh tengkulak tidak memberikan jaminan harga dan kesejahteraan petani, sebab petani tidak mempunyai daya tawar kuat dengan tengkulak apalagi dengan sistem ijon yang dilakukan tengkulak. Masalah lain adalag pemerintah belum sungguh-sungguh membangun infrastruktur dipedesaan guna mendukung pengembangan sektor pertanian. Bukti belum adanya kesungguhan pemerintah tersbut tetlihat alokasi anggaran pembangunan infrastruktur desa, dan fokus penguatan produksi dasar bidang pangan belum dijadikan fokus prioritas nasional. Pemerintah juga masih senang impor dengan dalih untuk stabilisasi harga pangan, menurunkan inflasi atau dalih apapun lainya.

Momentum Membangun Kembali Kekuatan Ekonomi Rakyat

Berkaca pada kondisi saat ini dimana pemerintah telah mengucurkan dana desa yang jumlahnya cukup besar belum dibarengi dengan sistem yang terpadu guna membangkitkan ekonomi pedesaan. Pendekatan membuat institusi baru tanpa memperhatikan keberadaan lembaga yang telah bergerak di pedesaan seperti koperasi desa (KUD), pengelola pnpm mandiri, dan lainnya membuat kurang sehatnya konsolidasi ekonomi dan sosial dipedesaan. Kesan tidak terjadinya koordinasi di tingkat pemerintah terjadi, yang memberikan kontribusi kurang efektif dan efisienya pelaksanaan program penguatan ekonomi pedesaan.

Saat ini momentum untuk membangun ekonomi pedesaan melalui koperasi desa. Dikatakan Agung kenapa harus dengan koperasi pedesaan karena koperasi menjamin demokrasi ekonomi, penguasaan sumber ekonomi tidak ada pada sekelompok orang, membangun keterbukaan dan memperkuat kohesi sosial antar masyarakat. Untuk menjadikan koperasi pedesaan mempunyai kekuatan dan mendapatkan kepercayaan dari rakyat desa maka perlu dilakukan reorganisasi koperasi pedesaan, modernisasi manajemen, penggunaan teknologi informasi dan aplikasi sistem pengelolaan bisnisnya, serta melakukan pendampingan untuk meningkatkan kualitas kapasitas para pengelolanya. Jika ini dilakukan saya yakin koperasi pedesaan dapat menjadi kekuatan ekonomi yang mempercepat terwujudnya kesejahteraan anggotanya. Agung menyadari masih banyak tantangan dan permasalahan untuk membangkitkan koperasi pedesaan ini. Masalah yang mendasar adalah merubah mindset para pelaku koperasi pedesaan, disamping masalah sosiokultur yang disebabkan citra koperasi pedesaan yang cenderung kurang baik. Tapi tdiak ada pilihan lain pemerintah harus fokus membangun ekonomi pedesaan, meningkatkan jumlah dan kualitas infrastuktur penunjang ekonomi desa, dan membangun jaringan kerja dengan pergurua tinggi serta LSM. [AS]

Berita Lainnya