Artikel

Lembaga Gerakan Koperasi Perlukah Diatur Dalam UU Perkoperasian?

(Sekretaris GKPRI Jatim, R. Nugroho) Artikel, PipNewsJatim.Com – Meributkan kehadiran Dekopin dalam pasal-pasal di RUU Perkoperasian menjadi fenomena dan dinamika Gerakan Koperasi Indonesia yang menarik untuk direnungkan saat ini. Penulis mencatat setidaknya ada 2 isue yang meributkan Dekopin diatur dalam RUU perkoperasian; yaitu : (1). Penetapan Dekopin akan merampas hak berserikat bagi insan gerakan koperasi

RUU Koperasi Sebuah Keniscayaan

(Sekretaris Majalis Pakar Dekopin, Ferrari Romawi, MBA) Artikel, PipNewsJatim.Com – Hingar bingar berita di media online dan cetak tentang koperasi merupakan bentuk paradoksal yang luar biasa. Pasca di batalkanya UU No. 17 Tahun 2012 oleh MK, koperasi tidak mempunyai UU yang kuat karena sifat UU No. 25 Tahun 1992 menjadi sementara, sambil menunggu lahirnya UU

Mengapa Ribut DEKOPIN Sebagai Wadah Tunggal?

(R. Nugroho) Artikel, PipNewsJatim.Com – Menjelang disahkannya RUU Perkoperasian yang nyaris tak kunjung selesai, muncul lagi satu batu sandungan yang menghadang disetujuinya RUU perkoperasian menjadi UU. Lembaga Gerakan yang bernama Dewan Koperasi Indonesia atau yang dikenal dengan DEKOPIN menjadi perdebatan sengit antara pihak yang mendukung dan pihak yang menolak hadirnya diatur dalam Undang-undang. Kenapa hadirnya

RUU Koperasi dan Nasib Koperasi

(DR. Agung Sudjatmoko)   Artikel, PipNewsJatim.Com – Dinamika tentang RUU Perkoperasian di media sosial dalam beberapa hari ini menjadi menarik. Sebab ada pihak yang berusaha membatalkan dan menunda pengesahan RUU dengan alasan yang sangat tidak rasional. RUU Perkoperasian tidak anti demokrasi, pembahasan panjang RUU sampai saat ini tentu telah mempertimbangkan seluruh aspek hukum, politik, ekonomi,

Harapan Ditengah Gebyar Harkop Ke – 72

  Artikel, PipNewsJatim.Com – Gebyar peringatan hari koperasi ke-72 hampir disetiap Kabupaten/Kota di Nusantara dan tentunya menelan biaya tidak sedikit telah menghadirkan kemeriahan massa dan menyedot perhatian publik untuk menikmatinya. Ada jalan santai, senam massal, upacara massal, tasyakuran, dan banyak lagi kegiatan massal yang lain. Gebyar itu telah menunjukkan kepada masyarakat bahwa ada orgasisasi besar

Koperasi atau Kuperasi

(DR. Agung Sudjatmoko)   Artikel, PipNewsJatim.Com – Koperasi sebagai pelaku ekonomi telah memberikan warna ditingkat mikro. Koperasi sudah menjalankan peran dan fungsinya memberikan pelayanan kepada anggota atau kelompok masyarakat dalam satuan wilayah tertentu. Ada 138 ribu koperasi yang aktif memberikan layanan usaha pada anggota. Jika asumsi setiap koperasi memberikan layanan pada anggota sebanyak 1000 orang

Koperasi Dipandang Negatif, Lalu Salah Siapa ?

  Opini, PipNewsJatim.Com – Mengapa koperasi selalu dipandang negatif dimasyarakat? Kalau menurut saya kenapa koperasi kerap dipandang negatif dan sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat kita bukan tanpa alasan. Selama ini dalam pemberitaan-pemberitaan yang sering kita temui bahkan kita lihat baik media online dan media cetak lebih banyak menampilkan berita-berita negatif yang dilakukan oleh “oknum-oknum”

Koperasi dan Perubahan

  Artikel, PipNewsJatim.Com – Perubahan merupakan keniscayaan yang akan terjadi. Perubahan memberikan makna bahwa ada kehidupan dalam organisasi. Era teknologi informasi pada revolusi industri 4.0 yang membawa percepatan yang dasyat disetiap sendi kehidupan masyarakat. Keberhasilan bisnis saat ini bukan ditentukan oleh besar, kuat atau banyaknya modal, tetapi lebih ditentukan “kelincahan” dan kecepatan menangkap peluang serta

APU KW JATIM, Pejuang Ekonomi Tangguh

  Artikel, PipNewsJatim.Com – Tahun 2009 – 2010 Provinsi Jatim telah menumbuhkan 8.506 Kopwan di 38 Kab/Kota di Jatim dengan Stimulan modal   Rp. 25 Juta sampai dengan 50 juta per koperasi dengan total nilai hibah sebesar Rp. 368.575 M yang bertujuan untuk pemberdayaan perempuan dan menghidupkan Ekonomi lokal, dengan harapan kopwan menjadi penyedia keuangan  mikro

Catatan 2018 Koperasi Indonesia

    Artikel, PipNewsJatim.Com – Koperasi Indonesia belum keluar dari jerat rutinitas berkesendirian dan kekecilanya. Citra buruk, banyak masalah dan moral hazard dari penggiatnya masih menghiasi berita di media. Kelambanan menangkap peluang, manajemen tradisional, main bisnis di pinggiran, tidak mampu mengkonsolidasikan kekuatan ekonomi, sosial dan budaya anggota masih menjadi cerita empirik yabg terus dilakukan di